Senin, 30 Desember 2013

HAPPY NEW YEAAR!!


new year, new resolution, and brand new spirit! :D

so many bad things and good things happen along 2013, and it teach us (especially me ;) ) a lot!
meet someone who i never expect before than fall in love is a one of my best moment in this year :))
but so many bad things happen too in this year :'(

but well it's over! let's face 2014 with happy feeling and i am so excited !
so many planning i've to do in 2014 and of course i wish i could posting in this blog continuously



and once agaiin HAPPY NEW YEAR EVERYONEEE :)
wish everything getting better and better, amin




xoxo
@norarst

Rabu, 03 April 2013

Toksikologi Pestisida


PROPOXUR

1.1.   Synonim :
Nama Kimia :
Phenol, 2-(1-Methylethoxy)-, Methylcarbamate
Nama Lainnya :
Baygon; Carbamic Acid, Methyl-, o-Isopropoxyphenyl Ester;
o-Isopropoxyphenyl-N-Methyl carbamate

1.2. Formula                                  : C11H15NO3

1.3. Sifat Fisik dan Kimia


Titik Leleh °C                91,5

Titik Didih °C                290
Tekanan Uap, mmHg    3E-6 (25 C)
Temperatur Kritis          483
Tekanan Kritis               26,0
Kepadatan                    1.12 g/cm3 (20 C)
Kelarutan dalam Air      2 g/L
pKow                           1,52

1.5. Industri yang Beresiko        
: Industri yang beresiko yaitu Industri yang bergerak dalam bidang Insektisida seperti industri obat anti nyamuk, dll.


1.4. Sumber Pajanan                   : Obat anti nyamuk, Insektisida
1.6. Pekerja yang Beresiko         : Pekerja yang paling beresiko adalah pekerja yang bertugas dalam pembuatan, formulasi, dan aplikasi Propoxur ini.
1.7. Kegunaan                               :
a.       Propoxur adalah insektisida karbamat non-pangan, dipasarkan dengan nama merek dagang terdaftar Baygon. Hal ini digunakan untuk mengendalikan kecoa, lalat, nyamuk, dan serangga rumput dan rumput.
b.      Propoxur telah digunakan dalam kegiatan pengendalian malaria dan kerah kutu untuk hewan peliharaan.
1.8. Farmakokinetik               : Propoxur masuk kedalam tubuh karena terhirup, penyerapan kulit, pencernaan, kulit dan atau kontak mata Paparan propoxur dapat dipantau dengan mengukur kadar metabolit fenol dalam urin dan kadar kolinesterase dalam darah. Namun, tes ini tidak dapat diandalkan indikator dari total eksposur karena mereka tidak spesifik untuk propoxur.
1.9. Gejala Keracunan                 :
a.       Efek Akut
 Paparan oral akut manusia untuk Propoxur menyebabkan penghambatan kolinesterase sel darah merah, dengan gejala kolinergik ringan yang termasuk penglihatan yang kabur, mual, muntah, berkeringat namun, efek bersifat sementara.
b.      Efek Kronis
 Paparan inhalasi kronis telah menghasilkan depresi tingkat kolinesterase, sakit kepala, muntah, dan mual pada manusia.
The Dosis Referensi (RFD) atau dosis yang dianjurkan untuk propoxur adalah 0,004 miligram per kilogram berat badan per hari (mg / kg / d) berdasarkan gejala kolinergik ringan dan darah penghambatan sel darah merah kolinesterase pada manusia. RFD adalah perkiraan (ukuran yang tidak pasti) dari paparan oral harian bagi populasi manusia (termasuk subkelompok sensitif) yang mungkin tanpa menghilangkan kemungknan untuk terkena risiko kanker selama seumur hidup. Ini bukan estimator langsung resiko melainkan titik acuan untuk mengukur dampak potensial. Pada eksposur semakin lebih besar dari RFD, potensi untuk meningkatkan efek kesehatan yang merugikan semakin besar. Paparan seumur hidup diatas RFD tersebut tidak berarti bahwa efek merugikan kesehatan tentu akan terjadi.
1.10. Standar kesehatan               :
NIOSH       :    Batas paparan udara yang direkomendasikan adalah 0,5 mg/m3 rata-rata selama workshift 10 jam.
ACGIH       : Batas paparan udara yang direkomendasikan adalah 0,5 mg/m3 rata-rata lebih dari satu workshift 8-jam.

* Batas paparan di atas adalah untuk tingkat udara saja. Saat kontak kulit juga terjadi, Anda mungkin overexposed, meskipun tingkat udara kurang dari batas yang tercantum di atas.
1.11. Penanganan Keracunan     :
- Kontak Mata
Segera siram dengan sejumlah besar air selama minimal 15 menit, sesekali mengangkat tutup atas dan bawah. Segera mencari pertolongan medis.
- Kontak Kulit
Segera lepaskan baju yang terkontaminasi. Segera bersihkan area terkontaminasi dengan air dan sabun yang banyak dan juga bersihkan rambut yang terkontaminasi dengan shampo yang tepat
- Pernapasan
Jauhkan individu tersebut dari lingkungan yang terkontaminasi lalu mulai berikan bantuan pernapasan (menggunakan pencegahan yang universal) jika pernapasan telah berhenti dan jantung telah berhenti maka segera bawa ke tempat medis segera.
1.12. Target Organ                       : sistem saraf pusat, hati, ginjal, saluran pencernaan, kolinesterase darah

Sumber :

Mekanisme Luka


MEKANISME LUKA

A.    Pengertian Luka
Didefinisikan sebagai kerusakan pada bagian tubuh yang disebabkan oleh kekuatan mekanis. Beberapa pasal memiliki definisi tersendiri tentang luka, berdasarkan kerusakan yang terjadi. Hal ini termasuk kerusakan pada organ-organ dalam. Pasal lain juga menyebutkan tentang derajat luka, tidak berdasarkan bentuknya namun berdasarkan akibatnya yang dapat membahayakan nyawa korban.

B.     Mekanisme Luka
Tubuh biasanya mengabsorbsi kekuatan baik dari elastisitas jaringan atau kekuatan rangka. Intensitas tekanan mengikuti hukum fisika. Hukum fisika yang terkenal dimana kekuatan = ½ masa x kecepatan. Sebagai contoh, 1 kg batu bata ditekankan ke kepala tidak akan menyebabkan luka, namun batu bata yang sama dilemparkan ke kepala dengan kecepatan 10 m/s menyebabkan perlukaan.
Faktor lain yang penting adalah daerah yang mendapatkan kekuatan. Kekuatan dari masa dan kecepatan yang sama yang terjadi pada dareah yang lebih kecil menyebabkan pukulan yang lebih besar pada jaringan. Pada luka tusuk, semua energi kinetik terkonsentrasi pada ujung pisau sehingga terjadi perlukaaan, sementara dengan energi yang sama pada pukulan oleh karena tongkat pemukul kriket mungkin bahkan tidak menimbulkan memar.
Efek dari kekuatan mekanis yang berlebih pada jaringan tubuh dan menyebabkan penekanan, penarikan, perputaran, luka iris. Kerusakan yang terjadi tergantung tidak hanya pada jenis penyebab mekanisnya tetapi juga target jaringannya. Contohnya, kekerasan penekanan pada ledakan mungkin hanya sedikit perlukaan pada otot namun dapat menyebabkan ruptur paru atau intestinal, sementara pada torsi mungkin tidaka memberikan efek pada jaringan adiposa namun menyebabkan fraktur spiral pada femur.

C.    Klasifikasi Luka
1.      Luka insisi (Incised wounds), terjadi karena teriris oleh instrumen yang tajam. Misal yang terjadi akibat pembedahan. Luka bersih (aseptik) biasanya tertutup oleh sutura seterah seluruh pembuluh darah yang luka diikat (Ligasi)
2.      Luka memar (Contusion Wound), terjadi akibat benturan oleh suatu tekanan dan dikarakteristikkan oleh cedera pada jaringan lunak, perdarahan dan bengkak.
3.      Luka lecet (Abraded Wound), terjadi akibat kulit bergesekan dengan benda lain yang biasanya dengan benda yang tidak tajam.
4.      Luka tusuk (Punctured Wound), terjadi akibat adanya benda, seperti peluru atau pisau yang masuk kedalam kulit dengan diameter yang kecil.
5.      Luka gores (Lacerated Wound), terjadi akibat benda yang tajam seperti oleh kaca atau oleh kawat.
6.      Luka tembus (Penetrating Wound), yaitu luka yang menembus organ tubuh biasanya
pada bagian awal luka masuk diameternya kecil tetapi pada bagian ujung biasanya lukanya akan melebar.
7.      Luka Bakar (Combustio)
8.      Decubitus/luka tekan : karena proses tertekan yang lama di area tertentu bagian tubuh. Tekanan tersebut menyebakan gangguan sirkulasi, memperberat nekrosis, timbulnya lecet kemerahan.
9.      Luka stasis vena = biasanya di ekstremitas bawah. Merupakan respon local hipoksia yang dialami oleh bagian tubuh tertentu
10.  Luka diabetik + pasien dg dekubitus

D. Fase Penyembuhan Luka
1. Vascular response : beberapa detik setelah terjadinya luka pada tipe apapun, respon tubuh dengan penyempitan pembuluh darah (konstriksi) untuk menghambat perdarahan dan mengurangi pajanan terhadap bakteri. Pada saat yang sama, protein membentuk jaringan fibrosa untuk menutup luka. Ketika trombosit bersama protein menutup luka, luka menjadi lengket dan lemb membentuk fibrin. Setelah 10-30 menit setelah terjadinya luka, pembuluh darah melebar karena serotonin yang dihasilkan trombosit. Plasma darah mengaliri luka dan melawan toxin yang dihasilkan microorganisme, membawa oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan untuk penyembuhan luka dan membawa agen fagosit untuk melawan bakteri maupun jaringagan yang rusak.
2. Inflamasi : Bagian luka akan menjadi hangat dan merah karen aprose fagositosis. Fase inflamasi terjadi 4-6 hari seteah injury. Tujuan inflamasi untuk membatasi efek bakteri dengan menetralkan toksin dan penyebaran bakteri.
3. Proliferasi/resolusi : penumpukan deposit kolagen pada luka, angiogenesis (pembentukan pembuluh darah baru), proliferasi dan pengecilan lebar luka. Fase ini berhenti 2 mgg setelah terjadinya luka, tetapi proses ini tetap berlangsung lambat 1- 2 tahun. Fibroblast mensistesis kolagen dan menumbuhkan sel baru. Miofibroblas menyebabkan luka menyempit, bila tidak terjadi penyempitan akan terjadi kematian sel. Contohnya jika terjadi scar atau kontraktur. Epitelisasi adalah perpindahan sel epitel dari area sekitar folikel rambut ke area luka. Perpingahan tersebut terbatas 3 cm. Epitelisai akan lebih cepat jika luka dalam keadaan lembab.
4. Maturasi/rekontruksi : fase terakhir penyembuhan dengan remodelling scaryang terjadi. Biasanya terjadi selam asetahun atau lebih seteleh luka tertutup. Selama fase ni fibrin di bentuk ulang, pembuluh darah menghilang dan jaringan memerkuat susunananya. Remodeling ini mencakup sintesis dan pemecahan kolagen.