MEKANISME LUKA
A. Pengertian Luka
Didefinisikan
sebagai kerusakan pada bagian tubuh yang disebabkan oleh kekuatan mekanis.
Beberapa pasal memiliki definisi tersendiri tentang luka, berdasarkan kerusakan
yang terjadi. Hal ini termasuk kerusakan pada organ-organ dalam. Pasal lain
juga menyebutkan tentang derajat luka, tidak berdasarkan bentuknya namun
berdasarkan akibatnya yang dapat membahayakan nyawa korban.
B.
Mekanisme
Luka
Tubuh biasanya mengabsorbsi kekuatan
baik dari elastisitas jaringan atau kekuatan rangka. Intensitas tekanan
mengikuti hukum fisika. Hukum fisika yang terkenal dimana kekuatan = ½ masa x
kecepatan. Sebagai contoh, 1 kg batu bata ditekankan ke kepala tidak akan
menyebabkan luka, namun batu bata yang sama dilemparkan ke kepala dengan
kecepatan 10 m/s menyebabkan perlukaan.
Faktor lain yang penting adalah daerah
yang mendapatkan kekuatan. Kekuatan dari masa dan kecepatan yang sama yang
terjadi pada dareah yang lebih kecil menyebabkan pukulan yang lebih besar pada
jaringan. Pada luka tusuk, semua energi kinetik terkonsentrasi pada ujung pisau
sehingga terjadi perlukaaan, sementara dengan energi yang sama pada pukulan
oleh karena tongkat pemukul kriket mungkin bahkan tidak menimbulkan memar.
Efek dari kekuatan mekanis yang
berlebih pada jaringan tubuh dan menyebabkan penekanan, penarikan, perputaran,
luka iris. Kerusakan yang terjadi tergantung tidak hanya pada jenis penyebab
mekanisnya tetapi juga target jaringannya. Contohnya, kekerasan penekanan pada
ledakan mungkin hanya sedikit perlukaan pada otot namun dapat menyebabkan
ruptur paru atau intestinal, sementara pada torsi mungkin tidaka memberikan
efek pada jaringan adiposa namun menyebabkan fraktur spiral pada femur.
C.
Klasifikasi
Luka
1. Luka
insisi (Incised wounds), terjadi karena teriris oleh instrumen yang tajam.
Misal yang terjadi akibat pembedahan. Luka bersih (aseptik) biasanya tertutup
oleh sutura seterah seluruh pembuluh darah yang luka diikat (Ligasi)
2. Luka
memar (Contusion Wound), terjadi akibat benturan oleh suatu tekanan dan
dikarakteristikkan oleh cedera pada jaringan lunak, perdarahan dan bengkak.
3. Luka
lecet (Abraded Wound), terjadi akibat kulit bergesekan dengan benda lain yang
biasanya dengan benda yang tidak tajam.
4. Luka
tusuk (Punctured Wound), terjadi akibat adanya benda, seperti peluru atau pisau
yang masuk kedalam kulit dengan diameter yang kecil.
5. Luka
gores (Lacerated Wound), terjadi akibat benda yang tajam seperti oleh kaca atau
oleh kawat.
6. Luka
tembus (Penetrating Wound), yaitu luka yang menembus organ tubuh biasanya
pada bagian awal luka masuk diameternya kecil tetapi pada
bagian ujung biasanya lukanya akan melebar.
7.
Luka Bakar
(Combustio)
8.
Decubitus/luka tekan
: karena proses tertekan yang lama di area tertentu bagian tubuh. Tekanan
tersebut menyebakan gangguan sirkulasi,
memperberat nekrosis, timbulnya lecet kemerahan.
9.
Luka stasis vena =
biasanya di ekstremitas bawah. Merupakan respon local hipoksia yang dialami oleh bagian tubuh tertentu
10. Luka diabetik + pasien dg dekubitus
D.
Fase Penyembuhan Luka
1. Vascular response : beberapa detik
setelah terjadinya luka pada tipe apapun, respon tubuh dengan penyempitan
pembuluh darah (konstriksi) untuk menghambat perdarahan dan mengurangi pajanan
terhadap bakteri. Pada saat yang sama, protein membentuk jaringan fibrosa untuk
menutup luka. Ketika trombosit bersama protein menutup luka, luka menjadi
lengket dan lemb membentuk fibrin. Setelah 10-30 menit setelah terjadinya luka,
pembuluh darah melebar karena serotonin yang dihasilkan trombosit. Plasma darah
mengaliri luka dan melawan toxin yang dihasilkan microorganisme, membawa
oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan untuk penyembuhan luka dan membawa agen
fagosit untuk melawan bakteri maupun jaringagan yang rusak.
2. Inflamasi : Bagian luka akan menjadi
hangat dan merah karen aprose fagositosis. Fase inflamasi terjadi 4-6 hari
seteah injury. Tujuan inflamasi untuk membatasi efek bakteri dengan menetralkan
toksin dan penyebaran bakteri.
3. Proliferasi/resolusi : penumpukan
deposit kolagen pada luka, angiogenesis (pembentukan pembuluh darah baru),
proliferasi dan pengecilan lebar luka. Fase ini berhenti 2 mgg setelah
terjadinya luka, tetapi proses ini tetap berlangsung lambat 1- 2 tahun.
Fibroblast mensistesis kolagen dan menumbuhkan sel baru. Miofibroblas
menyebabkan luka menyempit, bila tidak terjadi penyempitan akan terjadi
kematian sel. Contohnya jika terjadi scar atau kontraktur. Epitelisasi adalah
perpindahan sel epitel dari area sekitar folikel rambut ke area luka.
Perpingahan tersebut terbatas 3 cm. Epitelisai akan lebih cepat jika luka dalam
keadaan lembab.
4. Maturasi/rekontruksi : fase terakhir
penyembuhan dengan remodelling scaryang terjadi. Biasanya terjadi selam
asetahun atau lebih seteleh luka tertutup. Selama fase ni fibrin di bentuk
ulang, pembuluh darah menghilang dan jaringan memerkuat susunananya. Remodeling
ini mencakup sintesis dan pemecahan kolagen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar